Selasa, 26 Februari 2013

Sejarah SLB di Indonesia


1.      Sekolah Khusus bagi Penyandang Tunanetra
Pendidikan luar biasa di Indonesia dapat ditelusuri sampai dengan awal abad XX. Atas inisiatif dr.Westhoff, pada tahun 1901 dibukalah satu lembaga untuk penyandang tuna netra yang pertama di Indonesia, bertempat di kota Bandung. Layanan yang diberikan kepada penyandang tunanetra yaitu penampungan dan latihan kerja dalam bentuk sheltered workshop (bengkel kerja terbimbing).
Dr.C.H.A. Westhoff
Pada tanggal 6 Agustus 1901 didirikan Yayasan Perbaikan Nasib orang-orang buta (Rumah Buta) oleh Dr. C. H. A. Westhoff. Beliau adalah seorang dokter mata berkebangsaan Belanda. Di tengah kesibukannya, ia berusaha menyampaikan gagasannya ke berbagai pihak. Dalam pikirannya saat itu, siapa tahu ada orang-orang yang sama dengan perasaannya. Atau paling tidak tumbuh dorongan perasaan dan bersedia mengulurkan tangannya. Apalagi menurut M. J. Leanderink, Direktur Instituut tot Onderwijs ann Blinden, pada tahun 1901, jumlah penyandang tunanetra di Hindia Belanda (Indonesia) sangat besar. Vereniging tot Vernetering van het lot der Blinden in Nederlandsch Oost1Indie (Yayasan Perbaikan Nasib Orang Buta di Nusantara) ini mendapatkan izin dari pemerintah Belanda pada saat itu dengan keluarnya surat keputusan Pemerintah Nomor 9 tanggal 06 Agustus 1901 oleh Gubernur Jendral W.Roosemboom. Realisasi kegiatannya di mulai sejak 16 September 1901 dengan di bukanya Bandoengsch Blinden Instituut di bawah pimpinan J.W. Van der Zanden.Kegiatannya di mulai di Tjitjendoweg (Jl.Cicendo) dengan dua orang murid yang bernama Johana Everdina dan Albert Bogehof van der Berg. Ternyata murid-muridnya, dari hari ke hari terus bertambah, sehingga pada bulan Mei 1902, tempat kegiatannya dipindahkan ke tempat yg lebih luas di Bragaweg (Jalan Braga). Dengan tujuan memberi bekal pengetahuan dan keterampilan untuk mengurangi ketergantungannya, kemudian dibuka bengkel (work shop). Sementara para pengurusnya aktif melakukan kampanye dan penyuluhan mengenai pencegahan kebutaan. Berkat kesungguhan usaha para pengurusnya, bantuan-bantuan mulai berdatangan. Antara lain diterima dari negeri Belanda, Raja Muangthai (Thailand), dan pemerintah jajahan. Usaha Wosthoff memerangi kebutaan dan penyantunan para penyandang tuna netra kian berhasil.Dengan bantuan dari pemerintah didirikanlah Koningin Wilhelmina-Ooglijder Gasthuis yang merupakan cikal bakal dari rumah sakit mata Cicendo. Pada tahun 1912, Dr. C. H. A. Westhoff meninggal dalam perjalanan laut.
 Sekolah bagi Anak Tunagrahita
Sekolah bagi anak tuna grahita yang pertama juga didirikan dikota Bandung pada tahun 1927. Pendiri sekolah ini adalah Vereniging Bijzonder Onderwijs dengan promotornya bernama Folker, sehingga sekolah ini diberi nama Folker School. Pada tahun 1942, nama sekolah ini diganti menjadi Perkumpulan Pengajaran Luar Biasa.
1.      Sekolah bagi Anak Tunarungu
Sekolah bagi anak tuna rungu-wicara yang pertama juga dibuka di Bandung pada tahun 1930, berdasarkan Surat keputusan Nomor 34 Tahun 1930 sebagai tambahan Berita Negara 1930-09. Pendiri sekolah ini adalah Ny.C.M.Roelfsema, isteri seorang dokter ahli THT, dan sekolah ini bernama Vereniging Voor Ondervijs an Doofstomme Kinderen in Indonesia.
Pada saat yang hampir sama, sebuah sekolah khusus bagi anak tuna rungu­wicara putri didirikan di kota Wonosobo Jawa Tengah. Nama sekolah ini adalah Werk Voor Misdeelde Kinderen in Nederlands host Indie yang pada tahun 1958 diubah menjadi Yayasan Dana Uphakara. Sedangkan bagi anak tuna rungu-wicara putra didirikan Bruder Karitae yang kernudian diganti menjadi Yayasan Karya Bahkti.
Perkumpulan Penyelenggaraan Pengajaran kepada anak-anak Tuli Bisu di Indonesia didirikan pada tanggal 3 Januari 1930 atas inisiatif Ny. CM Roelfsema Wesselink istri Dokter H.L Roelfsema, seorang ahli THT di Indonesia, pada waktu itu di kediaman beliau Jln. Riau No. 20 Bandung didirikan sekolah dan asrama yang pertama dengan jumlah murid 6 orang. Kemudian pindah ke Oude Hosfitalweg No. 27 Bandung, tidak lama kemudian didatangkan 2 (dua) orang guru ahli dari Nederland yaitu Tuan DW. Bloemink dan Nona E. Gudberg, yang kemudian Tuan DW. Bloemink diangkat menjadi Derektur, berkat kebijakan Tn. KAR Bosscha beliau menyerahkan uang sebesar ƒ 50.000 kepada Dewan Kota Praja Bandung pada waktu itu. Maka pendirian gedung sekolah dan asrama di atas sebidang tanah di desa cicendo, distrik Bandung, Kabupaten Bandung. Karisidenan Priangan di bangun dengan peletakan Batu Pertama oleh Hoogedelgeboren Vrouwe A.C de Jonge, Gebaran Baronesse Van Wassenoar, istri dari Gouverneur Generaal Van Nederland disch Indie, Zijne Excellentie Mr. D.C. de Jonge.” pada tanggal 6 Mei 1933. Pada tanggal 18 Desember 1933 gedung sekolah dan asrama selesai dan di buka secara resmi, dengan jumlah murid 26 orang diantaranya 6 orang tinggal di luar asrama. Pada tahun 1942 – 1945 gedung sekolah dan asrama dipergunakan oleh tentara Jepang (selama peperangan jepang) dan setelah peperangan Jepang berakhir lembaga pendidikan sekolah dan asrama dipergunakan untuk klinik bersalin, kemudian pada tanggal 1 Juni 1949 gedung sekolah dan asrama dikembalikan kepada perkumpulan, sehingga sekolah dan asrama bisa diselenggarakan sebagaimana mestinya dan kemudian Kementrian pendidikan dan pengajaran mendatangkan guru ahli dari Nederrland yaitu Jivan Dooran dan disusul oleh Tn. Van Derbeek pada tahun 1949 Tn Jivan Doorn diangkat menjadi Derektur Lembaga LPATB ( Lembaga Pendidikan Anak Tuli Bisu) tahun 1950.
Kemudian diteruskan oleh Yn. Vander Beek pada bulan Oktober 1951. Pada September 1952 lembaga ini diresmikan sebagai Sekolah Rakyat Latihan Luar Biasa. Tidak lama kemudian pada tahun 1954 Departemen Pendidikan menetapkan lembaga pendidikan untuk para penyandang cacat di Indonesia dinamakan Sekolah Luar Biasa (SLB). SLB B Cicendo Bandung berstatus swasta, yaitu kepunyaan P3ATR yang juga ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menjadi sekolah latihan SGPLB ( Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa). Setelah Tn. Van Der Beek pulang ke negeri Belanda, yang menjadi kepala sekolah adalah Bapak Saleh Bratawidjaya BA. Pada tahun 1956 beliau pensiun kemudian dijabat oleh Bapak RA. Suwandi Tirtaatmadja dari tahun 1977 sampai dengan tahun 1986 dan kepengurusan P3ATR diketuai oleh Gubernur Jenderal Belanda ( pada jaman Belanda) setelah perkumpulan diserahkan kepada Republik Indonesia yang menjadi ketua / Derektur P3ATR dipegang oleh Gubernur Jawa Barat yaitu Bapak R. Moch. Sanusi Harja Dinata, seterusnya secara tradisi yang menjadi ketua / Derektur P3ATR langsung dipegang oleh Gubernur, akan tetapi pada waktu Gubernur Jawa Barat Bapak Solihin GP, tradisi ini berubah karena pada waktu itu Bapak Solihin GP tidak bersedia menjadi ketua / Derektur, maka beliau menunjuk Bapak Irawan Sarpingi ( Derektur Taksi 4848 ) sebagai ketua P3ATR sampai jabatan Gubernur selesai, kemudian Gubernur Jawa Barat Bapak Aang Kunaefi menunjuk Bapak Ir.Encon Padmakusumahmenjadi ketua P3ATR. Pada waktu Bapak Yogi SM menjadi Gubernur, beliau menunjuk Bapak RH. Gartina Dindadipura SH sebagai ketua P3ATR hingga SLB – B P3ATR berubah nama menjadi YP3ATR. Dan Kepala Sekolah SLB – B P3ATR setelah Bapak Saleh Bratawijaya BA pensiun, diganti oleh Bapak RA. Suwandi Tirtaamaja BA beliau pensiun pada tahun 1986 diganti oleh Bapak Drs. Purnama kemudian diganti oleh Bapak Jajuri BA dan diganti oleh Bapak Drs. Suhali kemudian pada tahun 1994 diganti oleh Bapak Uu Sumawinata SPd, karena beliau dimutasi di Sumedang, kemudian diganti oleh Ibu Dra. Kartika kemudian beliau dimutasi di Purwakarta bulan September 2003, maka kemudian diganti oleh Bapak Priyono, S.Pd mulai bulan September 2003 – sampai dengan sekarang.
Hasil Penelitian Relawan VHO Berkebangsaan Belanda yaitu Tn. Frend menyimpulkan bahwa pelayanan pembelajaran di SLB – B YP3ATR Cicendo Bandung. Tidak bisa digabungkan antara Penyandang Tuna Rungu murni dengan Tuna Rungu Plus ( Tuna Rungu Plus gangguan lain ). Maka pada tahun 1996 SLB – B YP3ATR dijadikan 2 sekolah SLB, yaitu SLB – B I YP3ATR yang melayani pendidikan Tuna Rungu Murni dan SLB-B II YP3ATR melayani pendidikan Tuna Rungu Plus gangguan lain. Dan Kepala SLB – B YP3ATR pada waktu itu Bapak Uu Sumawinata S.Pd, Kepala SLB – B II YP3ATR Ibu Dra. Elly Srimelinda, Kepala SLB – B I diganti oleh Ibu Dra. Kartika dan Kepala SLB-B II diganti oleh Ibu Dra. Eti Rochaeti dan Kepala SLB – B I diganti Bapak Priyono, S.Pd. Dengan perubahan zaman dan dengan beberapa kali lembaga ini ada perubahan nama, mulai dari SLB P3ATB ( Perkumpulan Penyelenggaraan Pengajaran Anak Tuli Bisu ) berubah menjadi LPATB ( Lembaga Pendidikan Anak Tuli Bisu ) kemudian berubah menjadi P3ATR ( Penyelenggaraan Pendidikan dan Pengajaran Anak Tuna Rungu ) dan berubah lagi menjadi YP3ATR ( Yayasan Penyelenggaraan Pendidikan dan Pengajaran Anak Tuna Rungu ).
Dengan memperhatikan dan melihat Sejarah SLB – B Cicendo yang sangat bersejarah dan mempertahankan cita-cita luhur para pendiri SLB – B Cicendo Bandung, serta melihat bangunan (Sarana dan Prasaranya ) yang kurang terawat. Maka keluarga Sekolah yang terdiri dari Kepala Sekolah, Guru dan Komite Sekolah serta orang tua murid dan tokoh masyarakat di Kota Bandung memandang perlu SLB – B Cicendo Bandung harus dipertahankan keberadaannya dan ditingkatkan layanan pendidikannya. Dengan cara SLB – B I dan II YP3ATR / P3ATR Dinegerikan ( Dikelola oleh Pemerintah ) maka dengan perjuangan yang panjang dan kebersamaan yang tinggi SLB – B I dan II YP3ATR / P3ATR Cicendo Bandung atas dasar pengkajian dari berbagai pihak yang berkompeten dan Rekomendasi dari Gubernur Jawa Barat, dan Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Terhitung Mulai Tanggal 2 Januari 2009 SLB B I dan B.II YP3ATR / P3ATR Beralih Status menjadi SLB Negeri Cicendo Kota Bandung dan telah diresmikan pada tanggal 26 Pebruari 2009 oleh Gubernur Jawa Barat.
Tidak semua orang Belanda itu menjajah. Beberapa juga ikut serta membangun Bandung seperti sekarang ini. Bidang yang dibangun macam-macam, salah satunya pendidikan. orang Belanda yang gemar sekali menjadi donatur untuk bidang pembangunan pendidikan di Bandung adalah Karel Albert Rudolf Bosscha. Yak, Bosscha nama panggilannya. Observatorium Bosscha yang di Lembang itu bukan satu-satunya sumbangan Bosscha untuk pendidikan di Bandung. Kampus ITB juga pernah jadi ladang amalnya Bosscha, termasuk salah satu sekolah yang berada di belakang rumah dinas Gubernur Jawa Barat Berikut ini.  Gedung Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo Bandung. Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo yang terletak di Jln. Cicendo No. 2. Kalau dulu nama (bahasa) Belandanya Mereeniging voor Onderwijs aan Doofstomme Kinderen in Indonesia atau disebut bangunan Doofstommen Instituut (Lembaga Bisu dan Tuli). Gedung ini termasuk gedung istimewa karena merupakan bangunan pertama yang menggunakan sistim rangka baja murni di Bandung.
Gedung ini didirikan 3 Januari 1930 atas prakarsa seorang ahli penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), Ny. C.M. Roelfsema Wesling, istri Dr. H.L. Roelfsema. Peletakan batu pertamanya sendiri dilakukan pada tahun 1933. 
Belum diketahui siapa arsitek dari bangunan ini. Kalau diperhatikan, SLB Cicendo memiliki gaya arsitektur tradisional modern, lihat saja bentuk atap dan kerangkanya. Bubungan atas dibentuk rata dan tidak ada pertemuan dengan bubungan samping, tetapi dibentuk ventilasi (rohang). Bubungan samping (sudut) dibentuk agak melengkung, seperti pada atap rumah tradisional Jawa Barat. 
Pada bagian kaki bangunan diberi batu kali, seperti pada bangunan masa Kolonial Hindia Belanda. Sayangnya gedung ini sekarang telah diberi cat berwarna hitam tidak warna natural seperti aslinya. Sedangkan dinding dibuat dari susunan bata dengan diberi lepa dan cat tembok berwarna putih. Pada pertemuan antara bagian kaki dan badan bangunan diberi pinggul dari serbuk batu yang diberi semen putih. Material besi hampir mendominasi bagian pintu dan jendela. Setiap daun pintu terbagi dalam 5 baris panel (kolom), setiap baris terdapat 2 panel (kolom). Pada baris paling bawah terbuat dari pelat besi setinggi bagian kaki bangunan, setengahnya lagi (2 kolom) menggunakan kaca es yang tidak tembus pandang tetapi tembus cahaya.
Oh satu lagi, SLB Cicendo bukan hanya merupakan bangunan pertama dengan konstruksi rangka baja di Indonesia, bisa jadi di Asia! Begitu menurut Kasi Pengembangan Budaya Daerah Subdin Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, yang juga Koordinator Pengumpulan Data Pengajuan dan Penetapan Bangunan Cagar Budaya Sekolah Luar Biasa (SLB) Cicendo, Drs. Eddy Sunarto. Sedangkan menurut beberapa sumber, bangunan rangka baja yang pertama adalah Gedung Sate. 
Gedung SLB Bandung termasuk dalam kategori benda cagar budaya yang dilindungi UUI No. 5 /1992 tentang Mengandung Nilai Sejarah, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan, ditinjau dari historis-arkeologis. Sama halnya dengan nasib bangunan bersejarah lain di Bandung, pengajuan pengajuan artefaktual SLB Cicendo sebagai bangunan cagar budaya, sejak Juni 2006, belum kunjung ditandatangani Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. 


1 komentar:

  1. Heeft u van de heer en mevrouw Roelfsema een foto? Ik zoek die voor historisch onderzoek naar KNO-artsen in Nederlands Indië..
    Groet Jan

    BalasHapus